Minggu, Oktober 17, 2021
BerandaBeritaKeterisian BOR Pasien Covid-19 di RSUD Ciamis Turun

Keterisian BOR Pasien Covid-19 di RSUD Ciamis Turun

ReportaseePRIANGAN.com – Keterisian BOR atau Bed Occupancy Rate pasien Covid-19 di RSUD Ciamis turun dan saat ini berada di angka 3,4 persen.

Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Kabid Pelayanan RSUD Ciamis, dr Bayu Yudiawan, Sabtu (25/9/2021).

Menurutnya, sejak melewati puncak gelombang Covid-19 di Ciamis kedua yaitu bulan Juli sampai Agustus, kini sudah mulai melandai.

“Kita ketahui sebelumnya, hampir semua Rumah Sakit “over capacity”, dan diintruksikan menambah 30 persen kapasitas BOR, sekarang ada sekitar total 131 Bed tersedia. Namun hari ini hanya terisi 4 orang,” tuturnya.

Bayu menjelaskan, selain 120 rawat inapnya, juga ada beberapa ruangan khusus covid-19 lainnya di IGD dan ruangan insidental, seperti ruang operasi, ruang persalinan, ruangan hemodialisa atau cuci darah.

“Jadi kita sudah lengkapi semua bagi masyarakat yang membutuhkan pertolongan-pertolongan yang lebih spesifik, semua bisa kita fasilitasi disini,” terangnya.

RSUD Ciamis yang sudah mencapai 3,4 persen keterisian BOR dan tidak menurunkan kapasitasnya. Bayu harap, masyarakat tidak abai terhadap protokol kesehatannya.

“Dengan BOR 3,4 persen, kita tidak menurunkan kapasitas, karena kita mewaspadai dan ditakutkan adanya lonjakan kasus dikemudian hari,” jelasnya.

Menurutnya, pihaknya hanya bisa mereduksi, bukan mengeliminasi jika nanti lonjakan kasus kembali tinggi. Latar belakangnya adalah cakupan vaksinasi yang ditargetkan 70 persen dari jumlah populasi, untuk di Ciamis baru sekitar 26 persenan.

“Berarti secara logika, masih banyak orang yang belum memiliki daya perlindungan dari antibodi,” jelasnya.

Selain itu, tambah Bayu, dengan melihat kondisi saat ini dimana mobilitas penduduk yang meningkat serta skrining yang belum menyeluruh, bisa menjadikan kemungkinan akan adanya lonjakan kasus Covid-19.

“Masih ada masyarakat yang mondar-mandir kesana kemari tanpa diketahui statusnya, apalagi yang OTG, kemungkinan itu masih ada. Maka dari itu, penangkalnya tetap protokol kesehatan harus digunakan,” pungkasnya.

RELATED ARTICLES

Tinggalkan Balasan

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments